Cerpenku_judul: Masuk Istana Merdeka

Rabu, 08 Juli 2015
                  

               Perkenalkan namaku Jono, sekarang aku duduk di kelas 4 SD. Aku tinggal di desa Panembahan Yusuf, Lampung Timur. Ayahku seorang petani dan ibuku hanyalah seorang buruh cuci. Kehidupanku di sini masih sangatlah awam. Masih banyak hutan-hutan yang masih lebat, banyak hewan-hewan ternak, pohon-pohon tinggi masih berdiri tegak, ikan-ikan di sungai masih bisa tertawa, burung-burung pun masih senang bernyanyi dengan bebasnya,  asyiiiikk sekali...  Oh iya, walau begitu, di sini fasilitas listrik masih minim sekali. Kalau mau listrik gratis, bisa sich kita menikmatinya. Tapi, waktunya sangat terbatas, hanya disediakan dari pemerintah dari jam 16.00-17.00 sore.. Itu saja hasil dari beberapa perwakilan dari desa kami yang langsung pergi ke pemerintah pusat untuk meminta hak-hak kami di sini.
Sebenarnya, sudah dari zaman bahela kami meminta hak-hak kami di sini, tapi tak ada satu pun tanggapan dari pemerintah. Atau, ada perwakilan dari pemerintah yang datang kepada kami untuk meminta keluh kesah kami, tapi pesan kami tidak disampaikan. Rasanya, ingin langsung pergi ke sana saja dan berbicara langsung! Ah, yang kami tahu, malah gedung-gedung di sana semakin tinggi-tinggi saja. Jauh sekali dengan keadaan kami di sini. Sungguh mengenaskan! Bukan hanya soal listrik, masalah kesehatan juga sangat minim, tak ada puskesmas satu pun di sini. Kalaupun ada yang sakit, ia  harus pergi jauh ke kota terdekat, kira-kira kami harus berjalan sejauh 20 Km! Yah, maklum saja, di sini alat komunikasi dan transportasi sangat minim.
            Tapi tak apa,  hari ini juga, detik ini juga, aku siap! Sangat-sangat siap! Sudah lama aku menantikan momen-momen seperti ini.Ya, kau tahu,  Ingin sekali rasanya dari dulu aku sendiri yang pergi ke Jakarta, mengatakan secara langsung keinginan-keinginan sederhanaku terhadap desaku ini. Terkadang, aku merasa iba melihat ibi-ibu yang hendak melahirkan harus berjalan jauh hingga ke kota. Tidak terbayang kalau di tengah jalan ada apa-apa, kan kasihan! Oh iya, lanjut! Lihat tuh, truk-truk dari kota sudah datang! Wah, senangnya melihat truk-truk besar nan gagah itu masuk ke desaku, ini memang momen yang sangat jarang kulihat! Hmmm..tapi, diam saja ya, jangan beritahu siapa-siapa kalau aku ingin kabur lewat truk-truk itu...Ceritanya nich, hari ini desaku sedang ada panen anggur, dan hasil panennya akan dikirim ke Jakarta! Aku tahu, ini ide gila! Tapi, mau bagaimana lagi, keinginanku untuk pergi ke sana sudah bulat. Biarlah, tak usah ada yang tahu tentang hal ini, termasuk orang tuaku.
            “Jono, ayo cepetan tolongin Bapak! Angkut anggur-anggur ini ke truk!” teriak Bapakku dari tengah-tengah kebun.
            “Iya, Pak! Siap!” jawabku penuh semangat. Dengan cepat aku pun mengangkat anggur-anggur itu ke dalam truk. Wah, segar sekali anggur-anggur ini!
            Yap, ini anggur yang terakhir, kulihat Bapakku sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya yang lain. Ah, ini kesempatan emas! Dengan penuh keyakinan, aku pun  segera naik ke truk. Kupegang erat-erat besi truk, kutarik dan kuangakat tubuh ini ke atas. Yak, siap berangkat!
            Brmmm...brrmmm...ahhh....kurasakan getaran-getaran dari truk mengalir ke dalam jiwaku. Yap, truknya sudah mulai berangkat. Aku pun memandang desaku yang malang , juga bapakku dari sela-sela truk. Aku berjanji, akan kembali kembali lagi ke desaku tercinta ini dan akan selalu merindukan ibu dan ayah. Aku pun duduk di sudut truk bagian belakang yang penuh dengan anggur-anggur hasil penen.
            Shh..krekk...krrr....Eits, apaan tuch? Aku yang tadinya mengantuk jadi tidak ngantuk lagi. Kreekk...sshh.. eh, suara itu lagi! Aku pun memandangi sekelilingku lamat-lamat. Mengerikan sekali, hari sudah mulai gelap, burung-burung berterbangan, kelelawar sudah mulai muncul. Sudahlah, jangan mengkhayal yang aneh-aneh! Kkrekk...ah, surara itu lagi! Tapi, semakin lama, sepertinya suara itu semakin jelas terdengar! Sebenrnya itu suara apa sich?
            Hmmm... Sepertinya ada makhluk lain selainku di truk ini! Krekk...ah, suara itu lagi..suara itu lagi... tiba-tiba..
            “BBBBAAAAAAAAA....!!!!!!!!” Tiba-tiba ada sesosok makhluk muncul tepat di depanku sambil merentangkan tangannya ingin menerkamku.
            “AAAAAAAAA......TTOOLOOOOONGGGG.......!” akupun penjerit, aku ingin menyelamatkan diriku tapi tidak bisa. Kuambil anggur-anggur disekelilingku dan kulemparkan kearahnya.
            “Pergi! Pergi! Sana! Pergi Jauh!” Ujarku sambil mengayun-ayunkan kakiku ke arahnya.
            “Huahahaha......kaget ya? Sudah, jangan kaget! Ini aku, Teri, Bro!” sahutnya sok polos.
            “Hah? Teri? Beneran nich? Asli? Aku berusaha mencari-ceri cahaya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Teri? Ngapain dia di sini? Oh iya, pasti belum pada tahu ya, Teri itu temen akrabku. Yah, seperti namanya Teri, dia anaknya kurus banget kayak ikan teri. Udah kurus, kecil lagi. Tapi, walau begitu, otaknya encer banget!
            “ Heh, Teri! Ngapain kamu di sini, hah? Udah sana pulang!” kataku.
            “Lha, kamu ngapain juga di sini?” dia malah balik nanya.
            “Aku mau ke Jakarta, Bung! Mau lapor sama Pak Presiden! Pokoknya aku pengen desa kita juga maju kayak kota-kota besar di sana!” jelasku.
            “Apa? Khayal kamu, Jon! Mana bisa anak kelas 4 SD kayak kita ini bisa lapor, minta macem-macem sama Pak Presiden lagi! Ketemu langsung aja belum tentu bisa, Jon! Lagi pula, kita kan masih kecil, mana mungkin omongan kita ini bakal didenger sama Pak Presiden, Cuy! Gak bakal deh!” jelas Teri panjang lebar.
            “Biarin aja, pokoknya tekadku sudah bulat, Ri! Pasti kita bisa! Emang kamu mau sampe kapan, biarin desa kita serba kekurangan terus-menerus kayak gini? Yang miskin semakin miskin, yang sakit semakin sakit, yang bodoh semakin bodoh? Coba dech lihat orang-orang kota, pejabat-pejabat yang serba kelebihan itu! Mana hak-hak kita yang seharusnya kita terima? Dimana coba? Musnah, diambil sama para koruptor! Kalau negeri kita penuh dengan koruptor, ya nggak akan maju-maju, Ri!” jelasku panjang lebar sambil menepuk-nepuk pundak Teri.
            “Hmm..bener juga! Ya udah, aku ikut dukung dech!”
            “Nah, gitu dong! Tapi, ngomong-ngomong, koq kamu bisa masuk truk ini juga sich?”
            “Yeee...aku cuma iseng aja kali! Habisnya, aku ngeliat kamu masuk ke truk ini, aku juga diem-diem ikutan..!Hehhehe...” jelasnya, sambil nyengir. Giginya yang hitam itu pun kelihatan.
            Pagi harinya, kami pun terbangun oleh asap hitam pekat yang mengganggu aliran nafas kami. Truk yang kami tumpangi pun berhenti.
            “Wah, Ri! Ayo, cepat turun, nanti kita ketahuan!” seruku.
            “Ya!” Dengan gesit kami pun turun dari truk dan langsung berlari menjauhi truk. Terus berlari, berlari, dan berlari sambil kami saling bergandengan tangan dengan erat. Terus berlari walau sebenarnya kami pun tak tahu kemana kami melangkah.
            “Ri, kita ada di mana sekarang? Masih jauh?” tanyaku penasaran.
            “Eeee...bentar ya, gedung-gedung tinggi, banyak asap, banyak rumah makan enak. Tunggu, aku baca dulu ya. Jalan Soekarno No. 58 Ja-kar-.” Kata Teri sambil mengeja-eja. Iya, terus?
            “Ja-kar-ta! Jakarta! Kita sudah sampai di Jakarta ternyata, Bung!”
            Wah, senang sekali rasanya sudah sampai Jakarta. Selangkah lagi nich, untuk bisa mencapai impian kami. Kami pun langsung mencari tumpangan gratis untuk mencapai istana merdeka. Untung saja ada ibu-ibu yang berbaik hati mau mengantarkan kami.
            “Lihat itu, Jon! Itu ternyata gedung istana merdeka  yang selama ini kita lihat di buku!” sahut Teri gembira sekali.
            ”Ah, iya! Bener banget! Wah, bagus ya! Tunggu apa lagi? Yuk, masuk!” ajakku sambil menarik lengannya. Sesampainnya kami di depan gerbang, kami dicegat oleh dua orang berpakaian gagah, tak tahulah itu siapa. Kami pun ditanyai banyak hal. Seperti nama, dari mana, mau apa, ke sini sama siapa, ah, sampai bingung mau jawab apa.
            “Ayolah, Pak! Kita sudah tidak sabar mau masuk! Tidak usah banyak tanya, kalau mau tahu lebih lanjut tentang kita, tanyanya nanti-nanti saja, Pak.” Ujar Teri sok polos.
            “Hmm..maaf ya adik-adik. Lebih baik adik-adik pulang saja, ya. Soalnya, Pak Presidennya lagi sibuk. Lagi pula, di sini kalian jauh dari rumah, berbahaya.” kata orang itu. Aduh bagaimana ini. Ya sudah, kami pun pergi dari sana dan memikirkan cara lain untuk dapat masuk ke sana. Setelah lama berfikir, Teri pun punya ide. Caranya, masuk diam-diam, memanjat pagar saat tengah malam nanti.
            Tepat pukul 00.00 WIB. Kami pun siap beraksi. Impian kami nggak muluk-muluk koq. Kami hanya ingin bertemu Pak Presiden dan ingin suara rintihan  kami didengar, nggak lebih.
            Kami pun mulai memanjat pagar, terus berlari dan sampailah di halaman belakang. Pintunya dikunci. Lantas, apa selanjutnya? Kami pun terus mencoba mencari celah-celah kosong. Berusaha kami buka jendela satu-persatu. Untungnya, ada satu jendela yang paling ujung yang tidak terkunci. Huh..syukurlah. Kami pun menghela nafas lega. Dengan cepat, kami masuk lewat jendela tersebut. Ah, lega rasanya sudah ada di dalam istana merdeka. Setelah sampai di dalam, kami pun mencari-cari di mana Pak Presiden berada. Saat kami berusaha mencoba membuka salah satu pintu...tiba-tiba ada sinar yang sangat terang sekali menyorot ke arah kami.
            “Siapa di sana? Jangan Bergerak!” Teriak salah seorang tak jauh dari posisi kami berada. Alarm yang sangat memekikkan telinga pun berbunyi. Semua orang di sini sepertinya bangun. Tanpa aba-aba lagi, kami pun di tarik keluar , tepatnya kami dibawa ke kantor polisi untuk diintrogasi. Di sana, kami menjelaskan secara detail kronologi ceritanya mulai dari kami berangkat dari desa hingga bisa sampai di tempat ini. Yang padahal, awalnya kami dikira penyusup yang ingin membuat keributan di istana merdeka. Lucu sekali. Namun, sebelum itu, sebenarnya tadi kami sempat melihat sesosok pria keluar dari pintu,  kami tahu, itu Pak Presiden. Tapi apa boleh buat, kami sudah agak jauh dari sana dan ditarik keluar oleh penjaga. Yah, sayang sekali. Padahal tinggal selangkah lagi!
            Keesokan paginya, berita tentang kami sudah menyebar luas di berbagai media. Di TV, koran, majalah, internet. Sepertinya, semua orang tahu tentang berita ini. Tapi, semoga saja ibu dan ayah di rumah tidak tahu ya. Kalau tahu, pasti nanti aku dimarahi. Tapi, sepertinya kedua orang tuaku sangat khawatir sekali. Wah, aku sudah kangen sekali dengan mereka!

            Akhirnya, kami berdua dipulangkan oleh polisi. Yah, padahal tinggal satu langkah lagi. Tinggal selangkah saja! Ah, sayang sekali! Tapi tak apa, mungkin bukan sekarang saatnya. Kalaupun bukan sekarang, kalaupun bukan mereka yang akan memakmurkan desa ini. Nanti, tunggu saja. Tunggu beberapa tahun lagi, aku yang akan mensejahterakan desa ini, aku yang akan mendengarkan dengan baik rintihan-rintihan rakyat-rakyat kecil yang mungkin sekarang belum ada yang mau mendengarkannya. Aku yang akan memberantas korupsi, aku yang akan berlaku adil, dan aku yang akan membenarkan semuanya. Berusaha sekuat tenaga, belajar yang giat, karena negeri ini butuh orang-orang berilmu, bukan yang malah merusak ilmu itu sendiri.  

0 komentar: