Cerbungku_Misteri Surat dari Langit

Kamis, 16 Juli 2015
  


                 Shh...sssshhhhh......suara aneh dari teras rumah membangunkanku di tengah malam yang sunyi. Awan tampak gelap, tak terlihat satu pun bintang, angin berhembus sangat kencang hingga tulang rusukku pun dapat merasakan dinginnya.  Mendengar suara aneh tadi, aku pun penasaran dan langsung bangkit dari tidurku yang lelap. Aku pun membuka pintu depan dan berjalan keluar rumah. Aku mengamati sekeliling rumah. Sepi, tak ada satu gerakan pun. Hanya ada dedaunan yang berterbangan. Lampu jalan tampak kedip-kedip, tanda lampu itu hampir habis masanya. Ah, sudahlah, tak ada apa-apa.
     Aku pun memperhatikan sekeliling rumahku sekali lagi. Tak ada tanda-tanda aneh. Mungkin, suara tadi hanya hembusan angin kencang yang baru saja lewat. Ah, sebaiknya kulanjutkan lagi tidurku yang sudah terpotong beberapa saat. Aku pun masuk rumah. Namun, saat aku mulai menutup pintu rumah, tiba-tiba saja ada cahaya yang sangat terang yang itu datang dari langit. Cahanya sangat terang sekali, sampai-sampai mataku tak mampu melihatnya dan aku harus menutup mataku dengan kedua lenganku. Semburat cahaya itu semakin terang saja. Cahaya putih yang sangat terang itu tiba-tiba saja redup, dan dari sini, aku melihat ada sesuatu melayang dari cahaya tadi. Benda apa itu? Aku pun agak sedikit menutup pintu rumahku, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ah, apa itu? Kuperhatikan lebih jeli lagi benda apa sebenarnya yang melayang-layang itu.
Wahh...tampak cahaya seperti pelangi terpancar dari sana. Lama-kelamaan, benda itu semakin dekat, dekat, dan dekat ,menuju ke arahku. Tampak sepucuk suratmelayang terbang mendekatiku. Aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu, keluar, dan berjalan mendekati sepucuk surat itu.
Yap, dapat! Akhirnya aku dapat meraih sepucuk surat beramplopkan kertas berwarna pelangi dan bergambar wajah orang tersenyum di sudut amplopnya. Ah, surat? Surat dari mana? Tapi, koq bisa datang dari langit? Atau jangan-jangan ini surat dari luar angkasa? Dari alien? Ah, sudahlah ini dunia nyata! Jangan banyak berkhayal! Tapi...kalau difikir-fikir surat ini dari siapa? Koq datangnya bisa dari langit gitu ya..?
Jam menunjukkan pukul 11.59 malam, semua orang nyenyak dalam tidurnya masing-masing. Suasana rumah pun sangat sepi, hanya lampu depan rumah yang menyala, seisi rumah memang sengaja dimatikan ketika tidur malam. Aku pun memutuskan untuk membuka surat itu dan membacanya di teras rumah. Di sudut kanan atas tertulis dari Lili di kuburan. Aku pun langsung terperanjat, sekujur tubuhku kaku dan sekarang aku keringat dingin. Tanpa aba-aba lagi, aku pun langsung masuk rumah, mengunci pintu depan dan berlari menuju kamar bundaku.
“Bundaaa....bunda....” sahutku sedikit teriak. Nafasku menjadi tak teratur, jantung ini masih berdetak kencang. Hosh..hosh...aku masih ngos-ngosan, rasanya seperti habis lari dikejar anjing! Bagaimana tidak shok, setelah menerima surat dari Lili yang padahal ia baru saja meninggal kemarin??!!!
Bundaku yang belum seratus persen sadar itu menyalakan lampu kamar.
“Sasa, kamu kenapa sayang?”
“Li..li...Li...li...Lili, Bun!” jawabku terbata-bata.
“Lili? Kenapa? Kamu habis mimpi buruk ya? Sudah baca doa belum?” tanya bundaku santai sambil membenarkan selimutnya.
“Ah, enggak, Bun! Lili! Lili ngasih aku surat. Suratnya jatuh dari langit!” terangku sambil mendekatkan diriku ke bunda.
“Masa sich..? Surat? Mana mungkin, Sa! Coba, mana suratnya?” tanya bundaku penasaran. Aku pun langsung memberikan surat yang kudapat tadi, surat yang beramplopkan warna pelangi dan ada gambar wajah sedang tersenyum di pojoknya. Bundaku pun langsung meraih surat yang kumaksud.
“Hahaha....Sasa, Sasa! Kamu ini lucu banget sich! Ini kan surat tagihan bayar SPP? Kalau ini, bunda sudah bayar...Lha, terus surat dari Lili mana?” tanya bunda heran. Aku pun langsung mengambil surat yang bunda pegang dan memeriksa kembali surat itu, kubolak-balik suratnya, dan kuteliti lebih dalam lagi. Yang benar saja, jelas jelas surat ini tadi berwarna pelangi, mengapa bisa berubah menjadi surat berwarna putih? Isinya surat tagihan SPP lagi? Ini konyol!
“E..ee..Bun, tapi tadi itu bener-bener....”
“Sudah ah, mungkin kamu sedang berkhayal...Ya sudah, sekarang kamu tidur aja! Jangan lupa baca doa ya!” pesan bundaku. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan kembali tidur. Sudahlah, Sa! Jangan berfikir yang aneh-aneh! Sekarang waktunya tidur! Besok pagi kamu harus sekolah! Sudahlah, lupakan kejadian barusan. Aku pun menaruh surat itu di atas meja belajarku....

                              -  BERSAMBUNG -


0 komentar: