Shh...sssshhhhh......suara aneh dari teras rumah
membangunkanku di tengah malam yang sunyi. Awan tampak gelap, tak terlihat satu
pun bintang, angin berhembus sangat kencang hingga tulang rusukku pun dapat
merasakan dinginnya. Mendengar suara
aneh tadi, aku pun penasaran dan langsung bangkit dari tidurku yang lelap. Aku
pun membuka pintu depan dan berjalan keluar rumah. Aku mengamati sekeliling
rumah. Sepi, tak ada satu gerakan pun. Hanya ada dedaunan yang berterbangan.
Lampu jalan tampak kedip-kedip, tanda lampu itu hampir habis masanya. Ah,
sudahlah, tak ada apa-apa.
Aku pun memperhatikan
sekeliling rumahku sekali lagi. Tak ada tanda-tanda aneh. Mungkin, suara tadi
hanya hembusan angin kencang yang baru saja lewat. Ah, sebaiknya kulanjutkan
lagi tidurku yang sudah terpotong beberapa saat. Aku pun masuk rumah. Namun,
saat aku mulai menutup pintu rumah, tiba-tiba saja ada cahaya yang sangat
terang yang itu datang dari langit. Cahanya sangat terang sekali, sampai-sampai
mataku tak mampu melihatnya dan aku harus menutup mataku dengan kedua lenganku.
Semburat cahaya itu semakin terang saja. Cahaya putih yang sangat terang itu
tiba-tiba saja redup, dan dari sini, aku melihat ada sesuatu melayang dari
cahaya tadi. Benda apa itu? Aku pun agak sedikit menutup pintu rumahku, takut
terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ah, apa itu? Kuperhatikan lebih jeli lagi
benda apa sebenarnya yang melayang-layang itu.
Wahh...tampak cahaya
seperti pelangi terpancar dari sana. Lama-kelamaan, benda itu semakin dekat,
dekat, dan dekat ,menuju ke arahku. Tampak sepucuk suratmelayang terbang
mendekatiku. Aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu, keluar, dan
berjalan mendekati sepucuk surat itu.
Yap, dapat! Akhirnya
aku dapat meraih sepucuk surat beramplopkan kertas berwarna pelangi dan
bergambar wajah orang tersenyum di sudut amplopnya. Ah, surat? Surat dari mana?
Tapi, koq bisa datang dari langit? Atau jangan-jangan ini surat dari luar
angkasa? Dari alien? Ah, sudahlah ini dunia nyata! Jangan banyak berkhayal!
Tapi...kalau difikir-fikir surat ini dari siapa? Koq datangnya bisa dari langit
gitu ya..?
Jam menunjukkan pukul
11.59 malam, semua orang nyenyak dalam tidurnya masing-masing. Suasana rumah
pun sangat sepi, hanya lampu depan rumah yang menyala, seisi rumah memang
sengaja dimatikan ketika tidur malam. Aku pun memutuskan untuk membuka surat
itu dan membacanya di teras rumah. Di sudut kanan atas tertulis dari Lili di
kuburan. Aku pun langsung terperanjat, sekujur tubuhku kaku dan sekarang aku
keringat dingin. Tanpa aba-aba lagi, aku pun langsung masuk rumah, mengunci
pintu depan dan berlari menuju kamar bundaku.
“Bundaaa....bunda....”
sahutku sedikit teriak. Nafasku menjadi tak teratur, jantung ini masih berdetak
kencang. Hosh..hosh...aku masih ngos-ngosan, rasanya seperti habis lari dikejar
anjing! Bagaimana tidak shok, setelah menerima surat dari Lili yang padahal ia
baru saja meninggal kemarin??!!!
Bundaku yang belum
seratus persen sadar itu menyalakan lampu kamar.
“Sasa, kamu kenapa
sayang?”
“Li..li...Li...li...Lili,
Bun!” jawabku terbata-bata.
“Lili? Kenapa? Kamu
habis mimpi buruk ya? Sudah baca doa belum?” tanya bundaku santai sambil
membenarkan selimutnya.
“Ah, enggak, Bun! Lili!
Lili ngasih aku surat. Suratnya jatuh dari langit!” terangku sambil mendekatkan
diriku ke bunda.
“Masa sich..? Surat?
Mana mungkin, Sa! Coba, mana suratnya?” tanya bundaku penasaran. Aku pun
langsung memberikan surat yang kudapat tadi, surat yang beramplopkan warna
pelangi dan ada gambar wajah sedang tersenyum di pojoknya. Bundaku pun langsung
meraih surat yang kumaksud.
“Hahaha....Sasa, Sasa!
Kamu ini lucu banget sich! Ini kan surat tagihan bayar SPP? Kalau ini, bunda
sudah bayar...Lha, terus surat dari Lili mana?” tanya bunda heran. Aku pun
langsung mengambil surat yang bunda pegang dan memeriksa kembali surat itu,
kubolak-balik suratnya, dan kuteliti lebih dalam lagi. Yang benar saja, jelas
jelas surat ini tadi berwarna pelangi, mengapa bisa berubah menjadi surat
berwarna putih? Isinya surat tagihan SPP lagi? Ini konyol!
“E..ee..Bun, tapi tadi
itu bener-bener....”
“Sudah ah, mungkin kamu
sedang berkhayal...Ya sudah, sekarang kamu tidur aja! Jangan lupa baca doa ya!”
pesan bundaku. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan kembali tidur.
Sudahlah, Sa! Jangan berfikir yang aneh-aneh! Sekarang waktunya tidur! Besok
pagi kamu harus sekolah! Sudahlah, lupakan kejadian barusan. Aku pun menaruh
surat itu di atas meja belajarku....
- BERSAMBUNG -

0 komentar:
Posting Komentar