Cerbungku_Misteri Surat dari Langit

Kamis, 16 Juli 2015
  


                 Shh...sssshhhhh......suara aneh dari teras rumah membangunkanku di tengah malam yang sunyi. Awan tampak gelap, tak terlihat satu pun bintang, angin berhembus sangat kencang hingga tulang rusukku pun dapat merasakan dinginnya.  Mendengar suara aneh tadi, aku pun penasaran dan langsung bangkit dari tidurku yang lelap. Aku pun membuka pintu depan dan berjalan keluar rumah. Aku mengamati sekeliling rumah. Sepi, tak ada satu gerakan pun. Hanya ada dedaunan yang berterbangan. Lampu jalan tampak kedip-kedip, tanda lampu itu hampir habis masanya. Ah, sudahlah, tak ada apa-apa.
     Aku pun memperhatikan sekeliling rumahku sekali lagi. Tak ada tanda-tanda aneh. Mungkin, suara tadi hanya hembusan angin kencang yang baru saja lewat. Ah, sebaiknya kulanjutkan lagi tidurku yang sudah terpotong beberapa saat. Aku pun masuk rumah. Namun, saat aku mulai menutup pintu rumah, tiba-tiba saja ada cahaya yang sangat terang yang itu datang dari langit. Cahanya sangat terang sekali, sampai-sampai mataku tak mampu melihatnya dan aku harus menutup mataku dengan kedua lenganku. Semburat cahaya itu semakin terang saja. Cahaya putih yang sangat terang itu tiba-tiba saja redup, dan dari sini, aku melihat ada sesuatu melayang dari cahaya tadi. Benda apa itu? Aku pun agak sedikit menutup pintu rumahku, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ah, apa itu? Kuperhatikan lebih jeli lagi benda apa sebenarnya yang melayang-layang itu.
Wahh...tampak cahaya seperti pelangi terpancar dari sana. Lama-kelamaan, benda itu semakin dekat, dekat, dan dekat ,menuju ke arahku. Tampak sepucuk suratmelayang terbang mendekatiku. Aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu, keluar, dan berjalan mendekati sepucuk surat itu.
Yap, dapat! Akhirnya aku dapat meraih sepucuk surat beramplopkan kertas berwarna pelangi dan bergambar wajah orang tersenyum di sudut amplopnya. Ah, surat? Surat dari mana? Tapi, koq bisa datang dari langit? Atau jangan-jangan ini surat dari luar angkasa? Dari alien? Ah, sudahlah ini dunia nyata! Jangan banyak berkhayal! Tapi...kalau difikir-fikir surat ini dari siapa? Koq datangnya bisa dari langit gitu ya..?
Jam menunjukkan pukul 11.59 malam, semua orang nyenyak dalam tidurnya masing-masing. Suasana rumah pun sangat sepi, hanya lampu depan rumah yang menyala, seisi rumah memang sengaja dimatikan ketika tidur malam. Aku pun memutuskan untuk membuka surat itu dan membacanya di teras rumah. Di sudut kanan atas tertulis dari Lili di kuburan. Aku pun langsung terperanjat, sekujur tubuhku kaku dan sekarang aku keringat dingin. Tanpa aba-aba lagi, aku pun langsung masuk rumah, mengunci pintu depan dan berlari menuju kamar bundaku.
“Bundaaa....bunda....” sahutku sedikit teriak. Nafasku menjadi tak teratur, jantung ini masih berdetak kencang. Hosh..hosh...aku masih ngos-ngosan, rasanya seperti habis lari dikejar anjing! Bagaimana tidak shok, setelah menerima surat dari Lili yang padahal ia baru saja meninggal kemarin??!!!
Bundaku yang belum seratus persen sadar itu menyalakan lampu kamar.
“Sasa, kamu kenapa sayang?”
“Li..li...Li...li...Lili, Bun!” jawabku terbata-bata.
“Lili? Kenapa? Kamu habis mimpi buruk ya? Sudah baca doa belum?” tanya bundaku santai sambil membenarkan selimutnya.
“Ah, enggak, Bun! Lili! Lili ngasih aku surat. Suratnya jatuh dari langit!” terangku sambil mendekatkan diriku ke bunda.
“Masa sich..? Surat? Mana mungkin, Sa! Coba, mana suratnya?” tanya bundaku penasaran. Aku pun langsung memberikan surat yang kudapat tadi, surat yang beramplopkan warna pelangi dan ada gambar wajah sedang tersenyum di pojoknya. Bundaku pun langsung meraih surat yang kumaksud.
“Hahaha....Sasa, Sasa! Kamu ini lucu banget sich! Ini kan surat tagihan bayar SPP? Kalau ini, bunda sudah bayar...Lha, terus surat dari Lili mana?” tanya bunda heran. Aku pun langsung mengambil surat yang bunda pegang dan memeriksa kembali surat itu, kubolak-balik suratnya, dan kuteliti lebih dalam lagi. Yang benar saja, jelas jelas surat ini tadi berwarna pelangi, mengapa bisa berubah menjadi surat berwarna putih? Isinya surat tagihan SPP lagi? Ini konyol!
“E..ee..Bun, tapi tadi itu bener-bener....”
“Sudah ah, mungkin kamu sedang berkhayal...Ya sudah, sekarang kamu tidur aja! Jangan lupa baca doa ya!” pesan bundaku. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan kembali tidur. Sudahlah, Sa! Jangan berfikir yang aneh-aneh! Sekarang waktunya tidur! Besok pagi kamu harus sekolah! Sudahlah, lupakan kejadian barusan. Aku pun menaruh surat itu di atas meja belajarku....

                              -  BERSAMBUNG -


Cerpenku_judul: Masuk Istana Merdeka

Rabu, 08 Juli 2015
                  

               Perkenalkan namaku Jono, sekarang aku duduk di kelas 4 SD. Aku tinggal di desa Panembahan Yusuf, Lampung Timur. Ayahku seorang petani dan ibuku hanyalah seorang buruh cuci. Kehidupanku di sini masih sangatlah awam. Masih banyak hutan-hutan yang masih lebat, banyak hewan-hewan ternak, pohon-pohon tinggi masih berdiri tegak, ikan-ikan di sungai masih bisa tertawa, burung-burung pun masih senang bernyanyi dengan bebasnya,  asyiiiikk sekali...  Oh iya, walau begitu, di sini fasilitas listrik masih minim sekali. Kalau mau listrik gratis, bisa sich kita menikmatinya. Tapi, waktunya sangat terbatas, hanya disediakan dari pemerintah dari jam 16.00-17.00 sore.. Itu saja hasil dari beberapa perwakilan dari desa kami yang langsung pergi ke pemerintah pusat untuk meminta hak-hak kami di sini.
Sebenarnya, sudah dari zaman bahela kami meminta hak-hak kami di sini, tapi tak ada satu pun tanggapan dari pemerintah. Atau, ada perwakilan dari pemerintah yang datang kepada kami untuk meminta keluh kesah kami, tapi pesan kami tidak disampaikan. Rasanya, ingin langsung pergi ke sana saja dan berbicara langsung! Ah, yang kami tahu, malah gedung-gedung di sana semakin tinggi-tinggi saja. Jauh sekali dengan keadaan kami di sini. Sungguh mengenaskan! Bukan hanya soal listrik, masalah kesehatan juga sangat minim, tak ada puskesmas satu pun di sini. Kalaupun ada yang sakit, ia  harus pergi jauh ke kota terdekat, kira-kira kami harus berjalan sejauh 20 Km! Yah, maklum saja, di sini alat komunikasi dan transportasi sangat minim.
            Tapi tak apa,  hari ini juga, detik ini juga, aku siap! Sangat-sangat siap! Sudah lama aku menantikan momen-momen seperti ini.Ya, kau tahu,  Ingin sekali rasanya dari dulu aku sendiri yang pergi ke Jakarta, mengatakan secara langsung keinginan-keinginan sederhanaku terhadap desaku ini. Terkadang, aku merasa iba melihat ibi-ibu yang hendak melahirkan harus berjalan jauh hingga ke kota. Tidak terbayang kalau di tengah jalan ada apa-apa, kan kasihan! Oh iya, lanjut! Lihat tuh, truk-truk dari kota sudah datang! Wah, senangnya melihat truk-truk besar nan gagah itu masuk ke desaku, ini memang momen yang sangat jarang kulihat! Hmmm..tapi, diam saja ya, jangan beritahu siapa-siapa kalau aku ingin kabur lewat truk-truk itu...Ceritanya nich, hari ini desaku sedang ada panen anggur, dan hasil panennya akan dikirim ke Jakarta! Aku tahu, ini ide gila! Tapi, mau bagaimana lagi, keinginanku untuk pergi ke sana sudah bulat. Biarlah, tak usah ada yang tahu tentang hal ini, termasuk orang tuaku.
            “Jono, ayo cepetan tolongin Bapak! Angkut anggur-anggur ini ke truk!” teriak Bapakku dari tengah-tengah kebun.
            “Iya, Pak! Siap!” jawabku penuh semangat. Dengan cepat aku pun mengangkat anggur-anggur itu ke dalam truk. Wah, segar sekali anggur-anggur ini!
            Yap, ini anggur yang terakhir, kulihat Bapakku sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya yang lain. Ah, ini kesempatan emas! Dengan penuh keyakinan, aku pun  segera naik ke truk. Kupegang erat-erat besi truk, kutarik dan kuangakat tubuh ini ke atas. Yak, siap berangkat!
            Brmmm...brrmmm...ahhh....kurasakan getaran-getaran dari truk mengalir ke dalam jiwaku. Yap, truknya sudah mulai berangkat. Aku pun memandang desaku yang malang , juga bapakku dari sela-sela truk. Aku berjanji, akan kembali kembali lagi ke desaku tercinta ini dan akan selalu merindukan ibu dan ayah. Aku pun duduk di sudut truk bagian belakang yang penuh dengan anggur-anggur hasil penen.
            Shh..krekk...krrr....Eits, apaan tuch? Aku yang tadinya mengantuk jadi tidak ngantuk lagi. Kreekk...sshh.. eh, suara itu lagi! Aku pun memandangi sekelilingku lamat-lamat. Mengerikan sekali, hari sudah mulai gelap, burung-burung berterbangan, kelelawar sudah mulai muncul. Sudahlah, jangan mengkhayal yang aneh-aneh! Kkrekk...ah, surara itu lagi! Tapi, semakin lama, sepertinya suara itu semakin jelas terdengar! Sebenrnya itu suara apa sich?
            Hmmm... Sepertinya ada makhluk lain selainku di truk ini! Krekk...ah, suara itu lagi..suara itu lagi... tiba-tiba..
            “BBBBAAAAAAAAA....!!!!!!!!” Tiba-tiba ada sesosok makhluk muncul tepat di depanku sambil merentangkan tangannya ingin menerkamku.
            “AAAAAAAAA......TTOOLOOOOONGGGG.......!” akupun penjerit, aku ingin menyelamatkan diriku tapi tidak bisa. Kuambil anggur-anggur disekelilingku dan kulemparkan kearahnya.
            “Pergi! Pergi! Sana! Pergi Jauh!” Ujarku sambil mengayun-ayunkan kakiku ke arahnya.
            “Huahahaha......kaget ya? Sudah, jangan kaget! Ini aku, Teri, Bro!” sahutnya sok polos.
            “Hah? Teri? Beneran nich? Asli? Aku berusaha mencari-ceri cahaya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Teri? Ngapain dia di sini? Oh iya, pasti belum pada tahu ya, Teri itu temen akrabku. Yah, seperti namanya Teri, dia anaknya kurus banget kayak ikan teri. Udah kurus, kecil lagi. Tapi, walau begitu, otaknya encer banget!
            “ Heh, Teri! Ngapain kamu di sini, hah? Udah sana pulang!” kataku.
            “Lha, kamu ngapain juga di sini?” dia malah balik nanya.
            “Aku mau ke Jakarta, Bung! Mau lapor sama Pak Presiden! Pokoknya aku pengen desa kita juga maju kayak kota-kota besar di sana!” jelasku.
            “Apa? Khayal kamu, Jon! Mana bisa anak kelas 4 SD kayak kita ini bisa lapor, minta macem-macem sama Pak Presiden lagi! Ketemu langsung aja belum tentu bisa, Jon! Lagi pula, kita kan masih kecil, mana mungkin omongan kita ini bakal didenger sama Pak Presiden, Cuy! Gak bakal deh!” jelas Teri panjang lebar.
            “Biarin aja, pokoknya tekadku sudah bulat, Ri! Pasti kita bisa! Emang kamu mau sampe kapan, biarin desa kita serba kekurangan terus-menerus kayak gini? Yang miskin semakin miskin, yang sakit semakin sakit, yang bodoh semakin bodoh? Coba dech lihat orang-orang kota, pejabat-pejabat yang serba kelebihan itu! Mana hak-hak kita yang seharusnya kita terima? Dimana coba? Musnah, diambil sama para koruptor! Kalau negeri kita penuh dengan koruptor, ya nggak akan maju-maju, Ri!” jelasku panjang lebar sambil menepuk-nepuk pundak Teri.
            “Hmm..bener juga! Ya udah, aku ikut dukung dech!”
            “Nah, gitu dong! Tapi, ngomong-ngomong, koq kamu bisa masuk truk ini juga sich?”
            “Yeee...aku cuma iseng aja kali! Habisnya, aku ngeliat kamu masuk ke truk ini, aku juga diem-diem ikutan..!Hehhehe...” jelasnya, sambil nyengir. Giginya yang hitam itu pun kelihatan.
            Pagi harinya, kami pun terbangun oleh asap hitam pekat yang mengganggu aliran nafas kami. Truk yang kami tumpangi pun berhenti.
            “Wah, Ri! Ayo, cepat turun, nanti kita ketahuan!” seruku.
            “Ya!” Dengan gesit kami pun turun dari truk dan langsung berlari menjauhi truk. Terus berlari, berlari, dan berlari sambil kami saling bergandengan tangan dengan erat. Terus berlari walau sebenarnya kami pun tak tahu kemana kami melangkah.
            “Ri, kita ada di mana sekarang? Masih jauh?” tanyaku penasaran.
            “Eeee...bentar ya, gedung-gedung tinggi, banyak asap, banyak rumah makan enak. Tunggu, aku baca dulu ya. Jalan Soekarno No. 58 Ja-kar-.” Kata Teri sambil mengeja-eja. Iya, terus?
            “Ja-kar-ta! Jakarta! Kita sudah sampai di Jakarta ternyata, Bung!”
            Wah, senang sekali rasanya sudah sampai Jakarta. Selangkah lagi nich, untuk bisa mencapai impian kami. Kami pun langsung mencari tumpangan gratis untuk mencapai istana merdeka. Untung saja ada ibu-ibu yang berbaik hati mau mengantarkan kami.
            “Lihat itu, Jon! Itu ternyata gedung istana merdeka  yang selama ini kita lihat di buku!” sahut Teri gembira sekali.
            ”Ah, iya! Bener banget! Wah, bagus ya! Tunggu apa lagi? Yuk, masuk!” ajakku sambil menarik lengannya. Sesampainnya kami di depan gerbang, kami dicegat oleh dua orang berpakaian gagah, tak tahulah itu siapa. Kami pun ditanyai banyak hal. Seperti nama, dari mana, mau apa, ke sini sama siapa, ah, sampai bingung mau jawab apa.
            “Ayolah, Pak! Kita sudah tidak sabar mau masuk! Tidak usah banyak tanya, kalau mau tahu lebih lanjut tentang kita, tanyanya nanti-nanti saja, Pak.” Ujar Teri sok polos.
            “Hmm..maaf ya adik-adik. Lebih baik adik-adik pulang saja, ya. Soalnya, Pak Presidennya lagi sibuk. Lagi pula, di sini kalian jauh dari rumah, berbahaya.” kata orang itu. Aduh bagaimana ini. Ya sudah, kami pun pergi dari sana dan memikirkan cara lain untuk dapat masuk ke sana. Setelah lama berfikir, Teri pun punya ide. Caranya, masuk diam-diam, memanjat pagar saat tengah malam nanti.
            Tepat pukul 00.00 WIB. Kami pun siap beraksi. Impian kami nggak muluk-muluk koq. Kami hanya ingin bertemu Pak Presiden dan ingin suara rintihan  kami didengar, nggak lebih.
            Kami pun mulai memanjat pagar, terus berlari dan sampailah di halaman belakang. Pintunya dikunci. Lantas, apa selanjutnya? Kami pun terus mencoba mencari celah-celah kosong. Berusaha kami buka jendela satu-persatu. Untungnya, ada satu jendela yang paling ujung yang tidak terkunci. Huh..syukurlah. Kami pun menghela nafas lega. Dengan cepat, kami masuk lewat jendela tersebut. Ah, lega rasanya sudah ada di dalam istana merdeka. Setelah sampai di dalam, kami pun mencari-cari di mana Pak Presiden berada. Saat kami berusaha mencoba membuka salah satu pintu...tiba-tiba ada sinar yang sangat terang sekali menyorot ke arah kami.
            “Siapa di sana? Jangan Bergerak!” Teriak salah seorang tak jauh dari posisi kami berada. Alarm yang sangat memekikkan telinga pun berbunyi. Semua orang di sini sepertinya bangun. Tanpa aba-aba lagi, kami pun di tarik keluar , tepatnya kami dibawa ke kantor polisi untuk diintrogasi. Di sana, kami menjelaskan secara detail kronologi ceritanya mulai dari kami berangkat dari desa hingga bisa sampai di tempat ini. Yang padahal, awalnya kami dikira penyusup yang ingin membuat keributan di istana merdeka. Lucu sekali. Namun, sebelum itu, sebenarnya tadi kami sempat melihat sesosok pria keluar dari pintu,  kami tahu, itu Pak Presiden. Tapi apa boleh buat, kami sudah agak jauh dari sana dan ditarik keluar oleh penjaga. Yah, sayang sekali. Padahal tinggal selangkah lagi!
            Keesokan paginya, berita tentang kami sudah menyebar luas di berbagai media. Di TV, koran, majalah, internet. Sepertinya, semua orang tahu tentang berita ini. Tapi, semoga saja ibu dan ayah di rumah tidak tahu ya. Kalau tahu, pasti nanti aku dimarahi. Tapi, sepertinya kedua orang tuaku sangat khawatir sekali. Wah, aku sudah kangen sekali dengan mereka!

            Akhirnya, kami berdua dipulangkan oleh polisi. Yah, padahal tinggal satu langkah lagi. Tinggal selangkah saja! Ah, sayang sekali! Tapi tak apa, mungkin bukan sekarang saatnya. Kalaupun bukan sekarang, kalaupun bukan mereka yang akan memakmurkan desa ini. Nanti, tunggu saja. Tunggu beberapa tahun lagi, aku yang akan mensejahterakan desa ini, aku yang akan mendengarkan dengan baik rintihan-rintihan rakyat-rakyat kecil yang mungkin sekarang belum ada yang mau mendengarkannya. Aku yang akan memberantas korupsi, aku yang akan berlaku adil, dan aku yang akan membenarkan semuanya. Berusaha sekuat tenaga, belajar yang giat, karena negeri ini butuh orang-orang berilmu, bukan yang malah merusak ilmu itu sendiri.  

Cerpenku_Judul: Biar Aku


Aku baru saja keluar dari rumah sakit, mengantarkan papaku berobat. Ya, papaku dulu memang pernah kena tumor di sum-sum tulang belakang, tapi untungnya sudah dioperasi dan sudah hilang. Tapi entah mengapa, sekarang papaku sakit lagi, tapi belum tahu penyakitnya apa. Aku pun membantu papaku menuntunnya dari belakang. Ya, papaku tidak bisa berjalan dan harus dibantu dengan kursi roda. Aku dan papaku pun menunggu mamaku yang sedang mengambil mobil. Sekarang, di sini, hanya ada aku dan papaku saja.
            “Nisa..” papaku memanggilku lembut sekali.
            “Ya..” jawabku.
            “Papa kena tumor lagi. Tumornya ada di leher.” terang papaku singkat. Aku tahu, jawaban itu sangat tak kuharapkan. Begitu mendengar kata-kata itu, badanku langsung keringat dingin, kaku, tak dapat mengatakan satu patah kata pun. Kalau melihat perjuangan papa beberapa tahun sebelumnya yang harus berobat sana-sini, hingga akhirnya mengambil keputusan untuk operasi dan merelakan nikmat berjalannya diambil, itu bukanlah perjalanan yang singkat. Dan sekarang, ujian itu datang lagi?
            “Sa, nanti kalo kamu  jadi dokter, jadi dokter yang baik-baik ya...kalo ada pasien yang minta bantuan langsung dibantu. Jadi dokter yang adil, tulus, kalo bisa ringankan biaya orang-orang yang kurang mampu, ya...!” kata papaku tiba-tiba, aku pun mengiyakan.
            Sepanjang perjalanan pulang, aku tak dapat berkata satu patah kata pun, aku lebih banyak diam, tak percaya. Sedih rasanya melihat kondisi papa yang sakit. Tapi aku tak boleh merasa iba, harusnya aku mengacungkan jempol, dan berkata, papa hebat! Papa bisa melewati semuanya tanpa mengeluh walau hanya sebentar saja. Belum tentu ada orang yang bisa setabah papa.
            Ah...sudah tak terasa, lima tahun papaku harus melawan penyakitnya. Mungkin, kalau aku jadi papa, aku sudah putus asa dan menangis sepanjang hari. Papaku hebat, walau beliau tak bisa berjalan, setengah badannya yang bawah yang mati rasa, dan hanya berbaring di kasur atau hanya duduk di kursi roda, tapi papaku tetap tegar menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian ini.
            Hari ini Bulan Ramadhan, aku senang bisa berkumpul bareng-bareng keluarga, bersyukur masih punya mama, papa, dan adik-adik yang sangat luar biasa. Oh iya, papaku baru saja pulang dari umroh bersama mamaku dan tanteku. Tak terbayang, perjuangan papaku dengan kondisinya yang tak normal seperti yang lain, bisa sampai di sana, menahan teriknya matahari yang sangat terik, mengikuti seluruh kegiatan-kegiatan di sana, di tambah harus berpuasa. Untung saja, ada mamaku yang selalu setia menemani dan memberikan suport untuk papaku.
            Sepulang dari tanah suci, entah mengapa papaku mengajak kami sekeluarga jalan-jalan ke mall dan makan bersama di salah satu restoran di sana, setelah lima tahun papa tidak pernah pergi ke mall-mall atau makan di luar. Ini saja, kami harus mencari mall yang memiliki eskalator lurus, agar papaku bisa naik dengan kursi rodanya. Sesampainya di sana, rasanya senang sekali melihat papa bisa senang, makan makanan yang enak, bisa melihat suasana mall yang ramai, dan masih banyak lagi.  sedih melihat papa yang tidak bisa berjalan seperti yang lain. Walau begitu, kami sekeluarga tidak malu, karena sebenarnya, kami yakin bahwa papa sangatlah hebat dan luar biasa.
            Sekarang, aku  sudah kelas 2 SMP, tepatnya, aku kini bersekolah di sekolah berasrama, sekitar 2 jam perjalanan dari rumah. Entah mengapa, tiba-tiba tanteku datang dan meminta izin kepada guruku untuk menjemputku pulang.
            “Maaf, bu guru. Saya mau menjemput Nisa pulang. Papanya sedang ada di rumah sakit dan ingin bertemu  dengan Nisa.” jelas tanteku.  
Akhirnya, guruku pun mengizinkanku untuk pulang. Rasanya, di perjalanan hatiku tidak tenang. Badanku pun mulai kaku dan berkeringat dingin. Ah, tapi aku tidah boleh begini, tetap tenang, Nisa...semuanya pasti baik-baik saja.
            2  jam berlalu, aku pun sampai di salah satu rumah sakit di Semarang. Sudah tidak sabar aku bertemu dengan papaku. Aku pun diantar ke salah satu kamar. Saat aku masuk, di sana sudah ada mama yang tampak matanya sedikit sembab dan aku melihat papaku yang sedang berbaring lemah di kasur. Sedih pasti, melihat kondisi papa yang sangat kurus, padahal sebelumnya papaku orang yang gendut berisi. Aku pun bersalaman dengan mamaku dan berjalan mendekati papa, bersalaman dengannya.
            “Sa..” papaku memanggil namaku. Aku pun mendekat.
            “Maafin papa ya, Sa...” kata papaku singkat.
            “Maafin aku juga ya, Pa...” jawabku. Beberapa menit setelahnya, papaku memintaku untuk terus membacakannya surat yasin. Terus kulantunkan, hingga keesokan paginya sekitar pukul 03.00, papaku muntah-muntah. Rasanya tak tega melihat kondisi papa, papaku juga merasakan sakit yang luar biasa. Mamaku terus memanggil dokter melihat kondisi papaku yang mulai memburuk. Dari pagi hingga siang hari, mamaku terus memanggil dokter, tapi tetap saja tidak datang, salah satu perawat memberi info kepada kami bahwa dokternya sedang rapat dan tidak bisa diganggu. Yah, pokoknya tidak bisa datang! Katanya sich begitu.
            “Ya Allah, apa tidak bisa dokternya datang dulu di sini, melihat kondisi pasien. Apa rapat lebih penting? Ya Allah, ini nyawa orang koq dibiarkan saja...”gumam mamaku sambil memegang tangan papaku erat-erat. Papaku mulai lagi merasakan sakit yang sangat dalam, keringatnya mulai bercucuran. Ditambah papa yang muntah-muntah terus bila dimasukkan makanan. Aku pun jadi kesal melihat semua ini, kalau tahu ilmunya, ingin rasanya biar aku saja yang menyembuhkan papaku. Ah, selera makanku jadi berkurang. Hingga menjelang malam, kondisi papaku sudah sangat menurun, glukosanya menurunlah, inilah, itulah, dan dokter baru saja datang. Kami semua menunggu di balik tirai. Beberapa menit setelah itu, akhirnya dokter tadi pun menemui kami.
            “Maaf, Bu. Mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan.” Kata dokter itu singkat dan langsung meninggalkan kami. Ya, memang itu kenyataannya, dokter itu langsung pergi begitu saja. Setelah itu, mamaku pun langsung menemui papaku yang sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kulihat mamaku berlinang air mata, walau mungkin sudah tabah karena sebelumnya sudah bisa merasakan tanda-tanda kematian papa. Ah, badanku langsung kaku melihat semua ini. Sedih, agak kesal, semuanya bercampur jadi satu. Saat itu juga, aku pun menyempatkan diriku untuk mencium kening papaku yang dingin untuk yang terakhir kalinya. Papa, aku tidak akan pernah melupakanmu dan aku akan selalu mendoakanmu. Pasti.
            Aku jadi teringat kata-kata papa saat keluar dari rumah sakit beberapa tahun yang lalu, “Sa, nanti kalo kamu  jadi dokter, jadi dokter yang baik-baik ya...kalo ada pasien yang minta bantuan langsung dibantu. Jadi dokter yang adil, tulus, kalo bisa ringankan biaya orang-orang yang kurang mampu, ya...!”

Yah, mungkin itu pesan papa yang selalu terngiang dalam ingatanku. Yah, tunggu saja beberapa tahun ke depan, aku akan menjadi dokter seperti yang papa bilang. Biar aku, biar aku saja, izinkan aku yang mengobati mereka. Aku tidak ingin kejadian seperti papa kemarin terulang kepada mereka di luar sana. Dokter kemarin yang menangani papa asal-asalan, hatinya kurang peka, malah lebih mementingkan urusannya sendiri. Tunggu ya papa, aku akan jadi seperti apa yang papa impikan....