Perkenalkan namaku
Jono, sekarang aku duduk di kelas 4 SD. Aku tinggal di desa Panembahan Yusuf,
Lampung Timur. Ayahku seorang petani dan ibuku hanyalah seorang buruh cuci.
Kehidupanku di sini masih sangatlah awam. Masih banyak hutan-hutan yang masih lebat,
banyak hewan-hewan ternak, pohon-pohon tinggi masih berdiri tegak, ikan-ikan di
sungai masih bisa tertawa, burung-burung pun masih senang bernyanyi dengan
bebasnya, asyiiiikk sekali... Oh iya, walau begitu, di sini fasilitas
listrik masih minim sekali. Kalau mau listrik gratis, bisa sich kita
menikmatinya. Tapi, waktunya sangat terbatas, hanya disediakan dari pemerintah
dari jam 16.00-17.00 sore.. Itu saja hasil dari beberapa perwakilan dari desa
kami yang langsung pergi ke pemerintah pusat untuk meminta hak-hak kami di
sini.
Sebenarnya,
sudah dari zaman bahela kami meminta hak-hak kami di sini, tapi tak ada satu
pun tanggapan dari pemerintah. Atau, ada perwakilan dari pemerintah yang datang
kepada kami untuk meminta keluh kesah kami, tapi pesan kami tidak disampaikan.
Rasanya, ingin langsung pergi ke sana saja dan berbicara langsung! Ah, yang
kami tahu, malah gedung-gedung di sana semakin tinggi-tinggi saja. Jauh sekali
dengan keadaan kami di sini. Sungguh mengenaskan! Bukan hanya soal listrik,
masalah kesehatan juga sangat minim, tak ada puskesmas satu pun di sini.
Kalaupun ada yang sakit, ia harus pergi
jauh ke kota terdekat, kira-kira kami harus berjalan sejauh 20 Km! Yah, maklum
saja, di sini alat komunikasi dan transportasi sangat minim.
Tapi tak apa, hari
ini juga, detik ini juga, aku siap! Sangat-sangat siap! Sudah lama aku
menantikan momen-momen seperti ini.Ya, kau tahu, Ingin sekali rasanya dari dulu aku sendiri
yang pergi ke Jakarta, mengatakan secara langsung keinginan-keinginan sederhanaku
terhadap desaku ini. Terkadang, aku merasa iba melihat ibi-ibu yang hendak
melahirkan harus berjalan jauh hingga ke kota. Tidak terbayang kalau di tengah
jalan ada apa-apa, kan kasihan! Oh iya, lanjut! Lihat tuh, truk-truk dari kota
sudah datang! Wah, senangnya melihat truk-truk besar nan gagah itu masuk ke
desaku, ini memang momen yang sangat jarang kulihat! Hmmm..tapi, diam saja ya,
jangan beritahu siapa-siapa kalau aku ingin kabur lewat truk-truk
itu...Ceritanya nich, hari ini desaku sedang ada panen anggur, dan hasil
panennya akan dikirim ke Jakarta! Aku tahu, ini ide gila! Tapi, mau bagaimana
lagi, keinginanku untuk pergi ke sana sudah bulat. Biarlah, tak usah ada yang
tahu tentang hal ini, termasuk orang tuaku.
“Jono, ayo cepetan tolongin Bapak! Angkut anggur-anggur
ini ke truk!” teriak Bapakku dari tengah-tengah kebun.
“Iya, Pak! Siap!” jawabku penuh semangat. Dengan cepat
aku pun mengangkat anggur-anggur itu ke dalam truk. Wah, segar sekali
anggur-anggur ini!
Yap, ini anggur yang terakhir, kulihat Bapakku sedang
asyik ngobrol dengan teman-temannya yang lain. Ah, ini kesempatan emas! Dengan
penuh keyakinan, aku pun segera naik ke
truk. Kupegang erat-erat besi truk, kutarik dan kuangakat tubuh ini ke atas.
Yak, siap berangkat!
Brmmm...brrmmm...ahhh....kurasakan getaran-getaran dari
truk mengalir ke dalam jiwaku. Yap, truknya sudah mulai berangkat. Aku pun
memandang desaku yang malang , juga bapakku dari sela-sela truk. Aku berjanji,
akan kembali kembali lagi ke desaku tercinta ini dan akan selalu merindukan ibu
dan ayah. Aku pun duduk di sudut truk bagian belakang yang penuh dengan
anggur-anggur hasil penen.
Shh..krekk...krrr....Eits, apaan tuch? Aku yang tadinya
mengantuk jadi tidak ngantuk lagi. Kreekk...sshh.. eh, suara itu lagi! Aku pun
memandangi sekelilingku lamat-lamat. Mengerikan sekali, hari sudah mulai gelap,
burung-burung berterbangan, kelelawar sudah mulai muncul. Sudahlah, jangan
mengkhayal yang aneh-aneh! Kkrekk...ah, surara itu lagi! Tapi, semakin lama,
sepertinya suara itu semakin jelas terdengar! Sebenrnya itu suara apa sich?
Hmmm... Sepertinya ada makhluk lain selainku di truk ini!
Krekk...ah, suara itu lagi..suara itu lagi... tiba-tiba..
“BBBBAAAAAAAAA....!!!!!!!!” Tiba-tiba ada sesosok makhluk
muncul tepat di depanku sambil merentangkan tangannya ingin menerkamku.
“AAAAAAAAA......TTOOLOOOOONGGGG.......!” akupun penjerit,
aku ingin menyelamatkan diriku tapi tidak bisa. Kuambil anggur-anggur
disekelilingku dan kulemparkan kearahnya.
“Pergi! Pergi! Sana! Pergi Jauh!” Ujarku sambil
mengayun-ayunkan kakiku ke arahnya.
“Huahahaha......kaget ya? Sudah, jangan kaget! Ini aku,
Teri, Bro!” sahutnya sok polos.
“Hah? Teri? Beneran nich? Asli? Aku berusaha mencari-ceri
cahaya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Teri? Ngapain dia di sini? Oh
iya, pasti belum pada tahu ya, Teri itu temen akrabku. Yah, seperti namanya
Teri, dia anaknya kurus banget kayak ikan teri. Udah kurus, kecil lagi. Tapi,
walau begitu, otaknya encer banget!
“ Heh, Teri! Ngapain kamu di sini, hah? Udah sana pulang!”
kataku.
“Lha, kamu ngapain juga di sini?” dia malah balik nanya.
“Aku mau ke Jakarta, Bung! Mau lapor sama Pak Presiden!
Pokoknya aku pengen desa kita juga maju kayak kota-kota besar di sana!”
jelasku.
“Apa? Khayal kamu, Jon! Mana bisa anak kelas 4 SD kayak
kita ini bisa lapor, minta macem-macem sama Pak Presiden lagi! Ketemu langsung
aja belum tentu bisa, Jon! Lagi pula, kita kan masih kecil, mana mungkin
omongan kita ini bakal didenger sama Pak Presiden, Cuy! Gak bakal deh!” jelas Teri
panjang lebar.
“Biarin aja, pokoknya tekadku sudah bulat, Ri! Pasti kita
bisa! Emang kamu mau sampe kapan, biarin desa kita serba kekurangan
terus-menerus kayak gini? Yang miskin semakin miskin, yang sakit semakin sakit,
yang bodoh semakin bodoh? Coba dech lihat orang-orang kota, pejabat-pejabat
yang serba kelebihan itu! Mana hak-hak kita yang seharusnya kita terima? Dimana
coba? Musnah, diambil sama para koruptor! Kalau negeri kita penuh dengan
koruptor, ya nggak akan maju-maju, Ri!” jelasku panjang lebar sambil
menepuk-nepuk pundak Teri.
“Hmm..bener juga! Ya udah, aku ikut dukung dech!”
“Nah, gitu dong! Tapi, ngomong-ngomong, koq kamu bisa
masuk truk ini juga sich?”
“Yeee...aku cuma iseng aja kali! Habisnya, aku ngeliat
kamu masuk ke truk ini, aku juga diem-diem ikutan..!Hehhehe...” jelasnya, sambil
nyengir. Giginya yang hitam itu pun kelihatan.
Pagi harinya, kami pun terbangun oleh asap hitam pekat
yang mengganggu aliran nafas kami. Truk yang kami tumpangi pun berhenti.
“Wah, Ri! Ayo, cepat turun, nanti kita ketahuan!” seruku.
“Ya!” Dengan gesit kami pun turun dari truk dan langsung
berlari menjauhi truk. Terus berlari, berlari, dan berlari sambil kami saling
bergandengan tangan dengan erat. Terus berlari walau sebenarnya kami pun tak
tahu kemana kami melangkah.
“Ri, kita ada di mana sekarang? Masih jauh?” tanyaku
penasaran.
“Eeee...bentar ya, gedung-gedung tinggi, banyak asap,
banyak rumah makan enak. Tunggu, aku baca dulu ya. Jalan Soekarno No. 58
Ja-kar-.” Kata Teri sambil mengeja-eja. Iya, terus?
“Ja-kar-ta! Jakarta! Kita sudah sampai di Jakarta
ternyata, Bung!”
Wah, senang sekali rasanya sudah sampai Jakarta.
Selangkah lagi nich, untuk bisa mencapai impian kami. Kami pun langsung mencari
tumpangan gratis untuk mencapai istana merdeka. Untung saja ada ibu-ibu yang
berbaik hati mau mengantarkan kami.
“Lihat itu, Jon! Itu ternyata gedung istana merdeka yang selama ini kita lihat di buku!” sahut
Teri gembira sekali.
”Ah, iya! Bener banget! Wah, bagus ya! Tunggu apa lagi?
Yuk, masuk!” ajakku sambil menarik lengannya. Sesampainnya kami di depan
gerbang, kami dicegat oleh dua orang berpakaian gagah, tak tahulah itu siapa.
Kami pun ditanyai banyak hal. Seperti nama, dari mana, mau apa, ke sini sama
siapa, ah, sampai bingung mau jawab apa.
“Ayolah, Pak! Kita sudah tidak sabar mau masuk! Tidak
usah banyak tanya, kalau mau tahu lebih lanjut tentang kita, tanyanya
nanti-nanti saja, Pak.” Ujar Teri sok polos.
“Hmm..maaf ya adik-adik. Lebih baik adik-adik pulang
saja, ya. Soalnya, Pak Presidennya lagi sibuk. Lagi pula, di sini kalian jauh
dari rumah, berbahaya.” kata orang itu. Aduh bagaimana ini. Ya sudah, kami pun
pergi dari sana dan memikirkan cara lain untuk dapat masuk ke sana. Setelah
lama berfikir, Teri pun punya ide. Caranya, masuk diam-diam, memanjat pagar
saat tengah malam nanti.
Tepat pukul 00.00 WIB. Kami pun siap beraksi. Impian kami
nggak muluk-muluk koq. Kami hanya ingin bertemu Pak Presiden dan ingin suara
rintihan kami didengar, nggak lebih.
Kami pun mulai memanjat pagar, terus berlari dan
sampailah di halaman belakang. Pintunya dikunci. Lantas, apa selanjutnya? Kami
pun terus mencoba mencari celah-celah kosong. Berusaha kami buka jendela
satu-persatu. Untungnya, ada satu jendela yang paling ujung yang tidak
terkunci. Huh..syukurlah. Kami pun menghela nafas lega. Dengan cepat, kami
masuk lewat jendela tersebut. Ah, lega rasanya sudah ada di dalam istana
merdeka. Setelah sampai di dalam, kami pun mencari-cari di mana Pak Presiden
berada. Saat kami berusaha mencoba membuka salah satu pintu...tiba-tiba ada
sinar yang sangat terang sekali menyorot ke arah kami.
“Siapa di sana? Jangan Bergerak!” Teriak salah seorang
tak jauh dari posisi kami berada. Alarm yang sangat memekikkan telinga pun
berbunyi. Semua orang di sini sepertinya bangun. Tanpa aba-aba lagi, kami pun
di tarik keluar , tepatnya kami dibawa ke kantor polisi untuk diintrogasi. Di
sana, kami menjelaskan secara detail kronologi ceritanya mulai dari kami
berangkat dari desa hingga bisa sampai di tempat ini. Yang padahal, awalnya
kami dikira penyusup yang ingin membuat keributan di istana merdeka. Lucu
sekali. Namun, sebelum itu, sebenarnya tadi kami sempat melihat sesosok pria
keluar dari pintu, kami tahu, itu Pak
Presiden. Tapi apa boleh buat, kami sudah agak jauh dari sana dan ditarik
keluar oleh penjaga. Yah, sayang sekali. Padahal tinggal selangkah lagi!
Keesokan paginya, berita tentang kami sudah menyebar luas
di berbagai media. Di TV, koran, majalah, internet. Sepertinya, semua orang
tahu tentang berita ini. Tapi, semoga saja ibu dan ayah di rumah tidak tahu ya.
Kalau tahu, pasti nanti aku dimarahi. Tapi, sepertinya kedua orang tuaku sangat
khawatir sekali. Wah, aku sudah kangen sekali dengan mereka!
Akhirnya, kami berdua dipulangkan oleh polisi. Yah,
padahal tinggal satu langkah lagi. Tinggal selangkah saja! Ah, sayang sekali!
Tapi tak apa, mungkin bukan sekarang saatnya. Kalaupun bukan sekarang, kalaupun
bukan mereka yang akan memakmurkan desa ini. Nanti, tunggu saja. Tunggu
beberapa tahun lagi, aku yang akan mensejahterakan desa ini, aku yang akan
mendengarkan dengan baik rintihan-rintihan rakyat-rakyat kecil yang mungkin
sekarang belum ada yang mau mendengarkannya. Aku yang akan memberantas korupsi,
aku yang akan berlaku adil, dan aku yang akan membenarkan semuanya. Berusaha sekuat
tenaga, belajar yang giat, karena negeri ini butuh orang-orang berilmu, bukan
yang malah merusak ilmu itu sendiri.