AKU NYASAR DI GUNUNG!!!

Selasa, 07 April 2015
             



                    Pengalaman yang tak terlupakan, mendaki Gunung Ungaran bersama teman2 dan kakak kelas 11 PPTQ SMAIT Ibnu Abbas Klaten yang diadakan pada hari Ahad, 29 Maret 2015. Kami pun memulai pendakian kami dari pukul 10.00 pagi. Seru, seru banget...! Walau pada awalnya, kami agak mengeluh karena kami harus berjalan jauh dan ditemani dengan terik matahari yang sangat membakar. Tapi, saat di tengah perjalanan, hati kami mulai senang kembali, karena cuacanya yang cerah menyejukkan. Kami memilih untuk terobos jalan dan tidak melewati jalan yang biasa dilewati orang-orang pada umumnya. Nah, jalan yang kami pilih sangatlah terjal. Kami terus  naik, naik, dan naik. Di sana, kami sempat terpisah menjadi 3 bagian dan terpisah dengan jarak yang cukup jauh.
                Pengalaman yang begitu langka kudapatkan ketika aku harus berpisah dengan teman-temanku yang lainnya karena kami terpisah sangat jauh dan memilih jalan yang lain. Jam menunjukkan pukul 17.30, hari mulai gelap. Padahal, kami yang berjumlahkan sekitar 10 orang tidak ada yang membawa senter satu orang pun, ditambah persediaan minum yang sudah habis, ditambah beberapa HP yang sudah low bat. Khawatir? Ya, banget, di sana aku merasakan kekhawatiran yang sangat mendalam. Hingga akhirnya magrib pun tiba, kami akhirnya dipertemukan dengan teman-teman-teman kami yang lain, hinga terkumpullah kami sekitar 20 orangan. Ahh...lega rasanya, karena dari mereka ada yang membawa 2 senter sebagai penerangan. Tapi, sebenarnya kami masih was-was karena kami masih terpisah sangat jauh dengan rombongan lain yang kuantitas orangnya sangat banyak, apalagi, kami masih belum sampai bawah. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk terus jalan, jalan dan jalan. Haingga jam 19.00, kami masih berada di dalam hutan gunung Ungaran, suasananya yang sangat sepi, tidak ada satupun terdengar suara permukiman warga, atau sekedar suara mobil dan motor. Benar-benar sepi, hutan, gelap, hitam., dan hanya ada 2 senter yang itupun sudah agak redup.
                 Hingga sampai suatu titik, badanku rasanya menggigil sekali, tanganku gemetaran, kakiku pun juga begitu, gigigu juga menggeretak, padahal aku sudah memakai baju double, jaket, sarung tangan, dan kaus kaki yang tebal. Tapi, tak ada pengaruhnya sama sekali. Akhirnya, kami bersama-sama saling berpelukan 5 orang untuk menghangatkan badan kami semuanya. Dari situlah, tercipta ikatan ukhuwah yang sangat mendalam, disaksikan oleh para dedaunan, sinaran rembulan yang sangat terang, dan gunung Ungaran yang berdiri kokoh. Kami pun memutuskan untuk berdiam diri, terus berdoa, dan menunggu keajaiban dari-Nya.
                  Benarlah, janji Allah itu pasti! Bahwasanya Dia tidak tidur dan selalu menolong para hambanya yang selalu mengharapkan Pertolongan-Nya. Tiba-tiba, ada 2 orang utusan dari Allah untuk menjemput kami dan akhirnya kami pun bisa bergabung kembali dengan rombongan yang lain. Saat itu, jam menunjukkan pukul 21.00. Dengan persedian minum yang sudah habis kering, badan yang lelah, dan mata yang sangat tak bisa diajak kompromi, kami pun digiring dan dibantu oleh beberapa timsar dan beberapa warga. Kami pun saling berpegang tangan dengan erat satu sama lain, bersama-sama melewati jalana setapak Gunung Ungaran yang sangat terjal. Di samping itu, kami pun harus berhati-hati untuk bisa mencapai bawah. Di sisi kiri kami banyak sekali tumbuhan berduri, dan di sisi kanan kami tepat jurang yang sangat curam. Beberapa kali dari kami terpeleset dan kami saling bahu-mambahu untuk menolongnya dan kembali berjalan dengan genggaman tangan yang begitu erat.
                  Akhirnya, setelah berjam-jam berjalan, kami pun dapat menikmati segarnya mata air Gunung Ungaran yang berada di bawah. Kami pun mengambil beberapa liter air untuk menjadi perbekalan kami pulang, dan kami pun mengambil kesempatan untuk menikmati beberapa teguk air langsung dari tempatnya, juga membasuh wajah kami agar bangkit kembali semangat yang mulai tertidur. Ahh..Alhamdulillah rasanya bisa berkumpul lagi bersama teman-teman semuanya dengan selamat. Kami pun sampai di bawah tepat pada pukul 00.30 hari Senin, 30 Maret 2015. Di sana kami dapat menikmati kesegaran kebun teh yang terpampar luas di bawah naungan bintang-bintang yang bertaburan indah.
                   Dari sana, aku banyak mengambil hikmah, bahwasanya perjalanan hidup itu tak selamanya harus luru-lurus saja. Memang seharusnya kita juga merasakan berbagai lika-liku hidup yang justru dengan itu kita dapat merasakan nikmatnya hidup yang tak pernah kita duga. Kadang kita di atas kadang di bawah, kadang semangat, kadang tak bersemangat. Tak usah banyak mengeluh, cukuplah nikmati apa-apa yang sedang kita rasakan sekarang dan selalu mencoba dan membuat diri ini bangkit kembali! So, selalu optimis dalam menjalankan seluruh lika-liku hidup ini......